Dilema Ikhtilat

Ikhtilat, ya sebuah istilah yang berarti bercampur baurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram baik dalam pertemuan resmi ataupun sekedar ngobrol bareng.
Kita tahu, islam begitu sempurnanya mengatur segala hal hingga hal pergaulan sekalipun. Islam mengajarkan pada kita bagaimana bergaul dengan lawan jenis kita. Kita dianjurkan bahkan diperintahkan Allah untuk menghindari ikhtilat, kalaupun ada keperluan yang memang penting dan mendesak kita diwajibkan memasang hijab(penghalang) agar kedua pandangan tidak bisa bertemu.
Sebagaimana firman Allah SWT :
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (QS.Al-Ahzab:53)

Masya Allah, betapa indahnya aturan Allah itu. Saya percaya aturan itu semata-mata bukan untuk membatasi dan mengekang kebebasan kita, melainkan untuk menjaga kita. Allah lebih faham diri kita, kelemahan kita. Ya, karena bagi saya pribadi adanya hijab itu membuat diri saya lebih nyaman ketika harus ada keperluan dengan lawan jenis.
Mengapa nyaman? Karena rasanya hati bisa lebih terjaga dari hasutan-hasutan syetan yang akan senantiasa merongrong kita. Karena tidak dapat dipungkiri ketika akhwat dan ikhwan harus menjalin komunikasi, di sana ada ujian dan godaan yang cukup sulit terutama bagi orang-orang seperti saya yang baru tahu dan dulunya bergaul dengan lawan jenis seperti layaknya bergaul dengan akhwat atau mahramnya, tak ada batasan, apalagi hijab.
Ketika ikhwan dan akhwat dipertemukan dalam satu tempat tanpa adanya hijab, pasti ada saja hal yang memancing keduanya untuk sekedar menengok atau melirik tanpa sengaja. Pasti ada saja hal yang mempertemukan keduanya pada satu tatapan. Ya, itulah perangkap syetan. Ia akan terus merayu,menggoda sebagaimana yang ia lakukan terhadap Nabi Adam as dan Siti Hawa.
Dan yang lebih menakutkan lagi ialah, ketika seorang akhwat keluar rumah maka syetan akan menghiasinya hingga nampak indah dalam pandangan lawan jenisnya. Lalu, apakah kita (akhwat) mau jikalau kita dapat menjadi penggugur imannya seorang ikhwan? Menjadi sumber penyakit hati seseorang? Tentunya tidak, bukan? Kita tak menginginkan hal itu terjadi. Maka jalan satu-satunya yang harus dilaksanakan ialah menghindari ikhtilat,pasang hijab!
Namun, bagi saya pribadi hal itu masih dirasa sulit. Larangan ikhtilat masih menjadi dilema tersendiri bagi saya. Oke jika keseharian saya hanya bergaul dan berada di tempat yang memang kondusif, seperti halnya di lingkungan DKM, organisasi dakwah, dan sejenisnya yang memungkinkan. Tapi, ketika di masyarakat yang belum semua paham,di kampus, di kelas, apa yang harus saya lakukan? Sedang di sana terdapat lawan jenis dan tak adanya hijab? Begitupun dalam angkutan umum, bagaimana caranya supaya saya bisa menghindari ikhtilat, sedang di Indonesia sendiri masih minimnya angkutan umum yang khusus akhwat?
Cukup sulit memang, namun semuanya masih bisa kita usahakan. Saya percaya dan yakin, Allah jauh lebih memahami kondisi kita, namun bukan berarti kita hanya berdiam diri pasrah tanpa ada upaya bukan?
Beberapa upaya yang mungkin dapat kita lakukan ialah yang pertama kita harus senantiasa menjaga pandangan ketika berada dimanapun, terutama di lingkungan yang bisa mempertemukan kita dengan lawan jenis.
Selain itu, upaya kedua dengan cara selektif dalam memilih kegiatan. Jika kegiatan yang dirasa tidak terlalu penting apalagi yang banyak mudharatnya serta di dalamnya tidak ada pemisahan ikhwan dan akhwat maka alangkah lebih baik dihindari.
Ketiga, jika memang harus bepergian minta tolong mahram untuk mengantarkan atau memilih membawa kendaraan sendiri. Kalau tidak memungkinkan, pilih tempat duduk diantara akhwat, jaga pandangan dan berdo’a pada Allah semoga dimampukan memberi kendaraan sendiri. (Aamiin) ^_^
Akhowatfillah, meskipun kini ikhtilat masih menjadi dilema bagi kita karena hal itu sulit dihindarkan, tak ada salahnya kita terus berusaha menghindarinya dan jangan lelah untuk berdo’a agar kita bisa benar-benar terhindar dan dijauhkan dari ikhtilat agar pandangan kita lebih terjaga begitupun dengan hati kita.

Makalah Subyek Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Tafsir adalah Ilmu yang mempelajari penjabaran tentang makna dan kandungan Al-Qur’an dan merupakan salah satu pembelajaran yang kita perlukan dalam memahami isi Al-Qur’an.Ilmu ini bertujuan agar kita tidak melakukan kesalahan dalam melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangannya.
Kita sebagai umat beragama, Islam, tentunya mempunyai pedoman hidup sesuai perintah Allah SWT yaitu Al-Qur’an.Dalam pedoman tersebut terdapat aturan-aturan yang harus kita laksanakan dan larangan-larangan yang harus kita tinggalkan. Al-qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama bagi umat muslim.
Kehidupan kita tidak terlepas dari pendidikan.Pendidikan sangat penting bagi kita umat Islam.Sebagai seorang calon pendidik, tentunya kita diharapkan menjadi seorang pendidik yang profesional.Dalam Al –Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi guru yang baik dan profeional. Dengan demikian kita akan dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran islam. Selain kita mendapatkan rizqi kita juga akan mendapatkan berkah dan ridhonya dari Allah SWT. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detail tentang subjek pendidikan menurut Al-Qur’an.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian subjek pendidikan?
2.      Bagaimana pandangan Al-Qur’an  terhadap subjek pendidikan?

C.    TUJUAN PENULIASAN
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi.
2.      Memberikan pengetahuan bagi penulis dan pembaca tentang subjek pendidikan dalam Al-Qur’an.
3.      Mengetahui  tafsir tentang subyek pendidikan dalam Al-Qur’an.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN SUBJEK PENDIDIKAN
Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali kepada keberhasilan atau gagalnya pendidikan.Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah Orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama ( tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah yang kedua adalah Rasulullah. Sebagaimana dapat kita lihat dalam surat al-‘Alaq : 4-5.
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa subjek pendidikan adalah seseorang atau sesuatu yang telah mengajarkan kita ilmu.Seseorang ini bukan hanya seorang guru tapi siapapun atau apapun yang dapat mengajari kita.Pendidikan yang pertama kali terjadi dalam ruang lingkup yang sangat sederhana yaitu keluarga.Subjek pendidikannya adalah orang tua, terutama ibu.Kita dapat memperoleh ilmu dari mana saja, seperti lingkungan, masyarakat, alam, dan semua ciptaan Allah SWT.

B.     SUBYEK PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’AN SURAT AR RAHMAN AYAT 1-4
a.      Teks Ayat Al Qur’an Surat Ar Rahman Ayat 1-4

                        ٲﻟرَﺣ۟ﻤٰﻦُ ۝۱ ﻋَﻠَّﻢَٲﻟ۟ﻘُﺮ۟ءَانَ ۝٢ ﺧَﻠَﻖَٲﻹِ۟ﻧ۟ﺴٰﻦَ ۝٣ ﻋَﻠَّﻤَﻪُٲﻟَ۟ﺒَﻴَﺎنَ ۝٤

1.  (Tuhan) Yang Maha Pemurah,
2.  Yang telah mengajarkan Al Qur'an.
3.  Dia menciptakan manusia,
4.  Mengajarnya pandai berbicara.


b.      Asbabul Nuzul Surat Ar Rahman Ayat 1-4
             Ayat ini diturunkan setelah terjadi pelecehan orang Kafir setelah ada perintah untuk bersujud pada Arrahman yang terdapat dalam surat Al Furqon ayat 60:
Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang, mereka menjawab: `Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?`, Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).
Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum kafir yang mengungkapkan mereka tidak mengenal seseorang yang bernama Rahman kecuali Rahman dari Yamamah. Maka ayat ini menegaskan bahwa Arrahman bukanlah dia tetapi Allah yang maha Rahman (Yang Maha Penyayang) yang telah mengajarkan Al-Qur’an dan telah menciptakan manusia.

c.       Makna Mufrodat Surat Ar Rahman Ayat 1-4
     الرَّحْمَنُ       : Salah satu nama Allah.
عَلَّمَ الْقُرْآنَ      : Yakni Allah mengajarkan al-Qur’an kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki.
خَلَقَ الْإِنْسَانَ  : Yakni menciptakan jenis manusia.
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ   : Mengajarkan manusia pandai berbicara, yaitu mengungkapkan apa yang tergores dalam jiwa dengan salah satu bahasa. Ini diajarkan Allah, kalau tidak diajarkan Allah manusia tidak akan bisa berbicara. 

d.      Tafsir Ayat Surat Ar Rahman Ayat 1-4
Ayat 1 dan 2 : Pada ayat ini Allah yang maha pemurah menyatakan bahwa Dia telah mengajar Muhammad Al-Quran dan Muhammad telah mengajarkan umatnya. Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Makkah yang mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. (QS An Nahl:103)
Oleh karena ayat ini mengungkapan beberapa nikmat Allah atas hambaNya, maka surat ini dimulai dengan menyebut nikmat yang paling besar faedahnya dan paling banyak manfaatnya bagi hamba-Nya, yaitu nikmat mengajarkan Al-Quran kepada manusia. Hal itu karena manusia dengan mengikuti ajaran Al-Quran akan berbahagia di dunia dan di akhirat dan dengan berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk-Nya niscaya akan tercapailah tujuan di kedua tempat tersebut. Al-Quran adalah induk kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada sebaik-baik makhluk Allah yang berada di bumi ini.
Ayat 3 dan 4 : Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmat kejadian manusia yang menjadi dasar semua persoalan dan pokok segala sesuatu. Sesudah Allah menyatakan nikmat mengajar Al-Quran pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menciptakan jenis makhluk-Nya ini dan diajarka-Nya pandai membicarakan tentang apa yang tergores dalam jiwanya dan apa yang terpikir oleh otaknya, kalaulah tidak mungkin tentu Muhammad tidak akan mengajarkan Al-Quran kepada umatnya.
Manusia adalah makhluk yang berbudaya, tidak dapat hidup kecuali dengan berjamaah, maka haruslah ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara dia dengan saudaranya yang menulis kepadanya dari penjuru dunia yang jauh dan dari benua-benua serta dapat memelihara ilmu-ilmu terdahulu untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kemudian dan menambah kekurangan-kekurangan yang terdapat dari orang-orang terdahulu.
Ini adalah suatu anugerah rohaniah yang sangat tinggi nilainya dan tidak ada bandingannya dalam hidup, dari itu nikmat ini didahulukan sebutannya dari nikmat-nikmat yang lain. Pertama-tama dimulai dengan sesuatu yang harus dipelajari, yaitu Al-Quran yang menjamin kebahagiaan, lalu diikuti dengan belajar kemudian ketiga cara dan metode belajar, dan seteusrnya berpindah kepada membacakan benda-benda angkasa yang diambi manfaat darinya.

e.       Subyek Pendidikan Menurut Surat Ar Rahman Ayat 1-4
1.       Ar-Rahman
Ar-Rahman adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah, yang mengandung makna pengasih kepada seluruh makhluknya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang taat ataupun yang mengingkarinya, bahkan kepada iblispun Allah masih “sayang”. Ayat pertama ini kaitannya dengan pendidikan adalah seorang pendidik atau guru harus mempersiapkan dirinya dengan sifat rahman, yaitu mempunyai sifat kasih sayang kepada seluruh peserta didik atau murid tanpa pandang bulu, baik kepada murid yang pintar, bodoh, rajin, malas, baik ataupun nakal. Dan semua yang disebutkan di atas masuk dalam kategori kode etik yang harus dimiliki seorang pendidik. Menurut Al-Gazhali, ada 17 kode etik yang diperankan pendidik diantaranya :
a.       Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah
b.      Bersifat lemah lembut dalam menghadapi peserta didik yang tingkat IQ-nya rendah, serta membinanya sampai pada taraf maksimal,
c.       Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didik,
d.      Memperbaiki sikap peserta didik, dan lemah lembut terhadap peserta didik yang kurang lancar berbicara,
e.       Meninggalkan sifat yang menakutkan bagi peserta didik, terutama pada peserta didik yang belum mengerti atau mengetahui,
f.       Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didik walaupun pertanyaannya terkesan tidak bermutu atau tidak sesuai dengan masalah yang diajarkan.
g.      Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan, walaupun kebenaran itu datangnya dari peserta didik,
h.     Menerima kebenaran yang diajukan peserta didik.

Dalam diri seorang pendidik, terhimpun sifat-sifat baik yang sepatutnya dimiliki manusia. Sifat-sifat baik itu merupakan dasar sikap dan tingkah laku yang patut diteladani subyek (anak) didiknya sebagai orang-orang yang dipimpinnya. Karena sungguh, sebagai pemimpin maka Allah akan memintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya, Rasulullah Saw bersabda :
                                                              كلّكم راع وكلّكم مسؤول عن رعيّته
Artinya :
Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.
Ilmu yang ditransfer dan diterapkan dengan dasar kasih sayang akan besar efeknya kepada murid, terutama dalam penyerapan ilmu yang ditransfer dan diinternalisasikan.
Dimulainya surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan beriman kepada Allah.

2.       ‘Allamal Qur’an
Al-quran adalah kalamullah atau firman Allah, bukan ucapan Nabi atau manusia lainnya. Tidak ada sepatah katapun ucapan Nabi dalam Al-quran. Pada saat Al-quran diturunkan, Nabi melarang para sahabatnya untuk menghafal atau mencatat, apalagi mengumpulkan ucapannya. Beliau hanya menyuruh untuk menghafal dan mencatat Al-quran. Hal ini semata-mata untuk menjaga kemurnian firma Allah. Sedangkan Syekh Ali Ash-Shabuni mengatakan, Al-quran adalah kalam Allah yang mu’jiz, diturunkan kepada Nabi dan Rasul penghabisan dengan perantaraan Malaikat terpercaya, Jibril, tertulis dalam mushhaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Al-quran merupakan sumber utama dalam pendidikan islam. Menurut Drs. Ahmad D Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam” menuliskan : Apakah dasar pendidikan Islam? Singkat dan tegas ialah firman Allah dan sunnah Rasulullah. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka isi Al-quran dan hadislah yang menjadi fundamennya.
Al-quran dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena Al-quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah Swt menciptakan manusia dan Allah pula yang mendidik manusia, yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-wahyu Nya. Tidak satu persoalanpun, termasuk soal pendidikan, yang luput dari jangkauan Al-quran.
Maka benarlah sabda Rasulullah Saw mengenai Al-quran, yang Artinya : “Dari Ustman r.a, Rasulullah Saw bersabda, “ Sebaik-baik kamu adalah orang yang berlajar Al-quran dan mengajarkannya.
Al-quran adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkannya berarti menegakkan agama, sehingga sangat jelas keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Karena begitu pentingnya kedudukan Al-quran, maka Allah Ar-Rahman langsung yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
Mengajarkan Al-qur’an. Ini menunjukan bahwa seorang guru harus terlebih dahulu mempersiapkan Al-qur’an, dalam konteks ini Al-qur’an diterjemahkan dengan materi pelajaran. Sebelum guru berada dihadapan siswa, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa, baik materi pokok yang merupakan keahliannya maupun materi penunjang diluar keahliannya. Guru yang hanya menguasai bahan pokok akan melahirkan kegiatan belajar mengajar yang kaku.
3.       Kholakol Insan
Manusia adalah makhluk yang mungkin, dapat dan harus dididik, sesuai dengan hakekatnya sebagai makhluk ciptaan Allah Swt, yang hidup sebagai satu diri (individu) dalam kebersamaan (sosialitas) dalam masyarakat, dan karena memiliki kemungkinan tumbuh dan berkembang, di dalam keterbatasannya sebagai manusia. Pendidikan menjadi keharusan bagi manusia, karena empat fakta yang dihadapinya dalam kehidupan. Manusia hanya akan menjadi manusia karena pendidikan. Mendidik berarti memanusiakan.
Dalam pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik (subyek didik), baik potensi efektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa). Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
Khalakol Insan (Menciptakan Manusia). Menilik tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak manusia yang sempurna, yang berilmu, berakhlak dan beradab. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi manusia yang sempurana adalah suatu kewajiban. Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknya mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berilmu, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang Maha Esa, seorang guru bukan hanya mengarahkan pada aspek prestasi saja. Menurut Imam Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
4.       ‘Allamahul Bayan
‘Allamahul Bayan (mengajarnya pandai berbicara). Al-Hasan berkata: "Kata al-Bayan berarti berbicara. Karena siyaq berada dalam pengajaran Al-Quran oleh Allah Ta'ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.
Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka.
Suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik (guru) dalam mengajar, membimbing, dan melatih muridnya adalah “kebutuhan dan kode etik murid”
Al-Qussy Membagi kebutuhan manusia (subyek didik) dalam dua kebutuhan pokok, yaitu :
a.       Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan ruhaniah.
Sedangkan Al-Ghazali merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, diantaranya adalah :
a.       Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk selalu menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela.
b.      Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya.
c.       Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
d.      Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokter.

BAB III
PENUTUP
A.                KESIMPULAN
1.      Kata Ar-Rahman menunjukkan sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia khususnya kepada peserta didik dan kepada masyarakat pada umumnya.
2.      Al-Quran merupakan sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama, karena Al-Quran memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Allah
3.      Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang sempurna, berilmu, berakhlak dan beradab.
4.      Ayat ini kaitannya dengan proses pendidikan adalah seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa (subyek didik) benar-benar faham.

B.                 SARAN
Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. Amin.


DAFTAR PUSTAKA
diakses pada selasa, 17 maret 2015 pukul 21.37

Umran, Benny Arbi. 2012 Subyek Pendidikan dalam Perspektif Surat Ar Rahman 1-4. Bandar Lampung.

Kementrian Agama RI. 2010. Al Qur’an dan Tafsirnya. Bogor: Lembaga Percetakan Al Qur’an Kementrian Agama RI.


Sergapan Rasa Memiliki

       
 Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukmimah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihannya dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
            Tapi bagaimanapun, ia merasa asing disini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam kithbah. Maka disampaikanyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
            “Subhanallah… wal hamdulillah..” , girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
            “Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama disisi Rasulullah SAW, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putrid anda untuk dipersuntingnya.” fasih Abu Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
            “ Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, “Menerima anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah member isyarat kearah hijab yang dibelakangnya sang putri menanti dengan segala debar hati.
            “Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. “Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,”
           Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang putri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alas an, reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.
Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran, bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
            “Allohu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
            Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit, malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
            Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan…
            Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang jawa, “Milik nggendong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parker yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
            Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya.

Ditulis Kembali dari Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Penulis : Salim A Fillah